Wagashi “Manisan Jepang”

Wagashi Manisan Jepang

Wagashi “Manisan Jepang” 2Wagashi “Manisan Jepang” 3Wagashi “Manisan Jepang” 4

Wagashi “Manisan Jepang”5

Kuliner Jepang

Bagi kalian yang suka banget liburan ke Luar Kota atau ke Luar Negeri, selain punya tujuan untuk lihat pemadangan indah bangunan atau alamnya, ngga lupa untuk mencicipi kulinernya kan?. Selain itu baru pergi belanja atau beli oleh-oleh. Kuliner inilah yang jadi daya tarik wisata bagi suatu Negara untuk menarik wisatawan asing, misalnya aja kita pasti pernah lihat orang-orang makan kecoa, belalang, kelabang, atau jenis serangga lainnya yang terkenal banget di Thailand, atau Korea yang terkenal akan makanannya Teoppoki, dan Indonesia yang terkenal akan nasi goreng, sate, atau rendangnya ini, membuktikan bahwa kuliner itu bisa jadi lahan penghasilan yang besar jika bisa dimanfaatkan dengan baik.

Jepang sendiri juga punya icon makanan yang terkenal banget yaitu sushi. Mungkin udah banyak banget yang jualan sushi di berbagai tempat di berbagai Negara. Tapi kita tau kalau di negaranya sendirilah kita akan mencicipi rasa sushi yang sesungguhnya. Nah selain sushi sebenarnya masih banyak banget kuliner dari negera yang terkenal dengan pohon sakuranya ini. Salah satunya adalah manisan Jepang ini yang kalau kita jalan-jalan ke Jepang ini belum lumrah kalau ngga mencicipi makanan ini atau bahkan beli buat oleh-oleh.

Baca juga : Lagu-Lagu Zaman Pendudukan Negeri Matahari Terbit

 Sejarah

Wagashi (和菓子, kue Jepang) adalah istilah bahasa Jepang untuk kue dan permen tradisional Jepang. Istilah wagashi digunakan untuk membedakan kue tradisional Jepang dengan kue dan permen dari Barat (Yōgashi) yang diperkenalkan orang Eropa ke Jepang sejak zaman Meiji. Kue dari Tiongkok yang diperkenalkan duta kaisar ke Dinasti Tang, dan kue yang disebut Namban-gashi yang diperkenalkan misionaris dari Eropa juga digolongkan ke dalam Wagashi.

Kue tradisional Jepang yang digolongkan ke dalam wagashi umumnya adalah berjenis-jenis mochi, manjū, dango, dan buah kering. Wagashi umumnya dibuat sebagai kue yang dihidangkan dalam upacara minum teh, sehingga sebagian besar wagashi hanya memiliki satu rasa, yakni rasa manis. Dalam upacara minum teh, wagashi yang dihidangkan tuan rumah harus dihabiskan sebelum meminum teh yang mungkin terasa pahit atau sepat.

Selain untuk dimakan, wagashi dituntut sebagai karya seni yang indah dilihat. Keindahan bentuk dan warna wagashi sering jauh lebih penting daripada rasanya. Selain itu, wagashi harus menggambarkan keindahan alam empat musim di Jepang. Di musim panas, misalnya, bentuk dan warna wagashi harus mencerminkan kesejukan bagi orang yang melihat. Wagashi musim panas sedapat mungkin terlihat sejuk atau transparan, sehingga sering memakai tepung Kuzu yang dibuat dari umbi Pueraria lobata. Wagashi musiman hanya dapat dinikmati pada musim tertentu. Agar-agar mizu yōkan misalnya, hanya tersedia pada musim panas, atau sakuramochi yang dimakan pada musim semi.

Sebagian besar wagashi dibuat dari bahan baku seperti beras, gandum, kedelai, atau tepung yang dihasilkan dari bahan-bahan tersebut. Sebelum gula pasir dikenal di Jepang, pembuatan wagashi hingga abad ke-19 masih menggunakan gula yang tidak dimurnikan dan berwarna cokelat (brown sugar). Sebelum adanya gula, wagashi hanya berupa buah kering yang rasanya manis, misalnya buah kesemek kering. Setelah teknik pengolahan serelia berkembang, orang Jepang mulai mengenal penganan dari beras yang ditumbuk seperti mochi dan dango.

Duta kaisar Jepang yang dikirim ke Dinasti Tang membawa pulang kue dari Tiongkok. Kue-kue tersebut dikenal di Jepang sebagai Karagashi (kue Dinasti Tang). Kue-kue tersebut dibuat dari adonan tepung yang diulen dengan air, dan digoreng di dalam minyak goreng. Setelah upacara minum teh dikenal di Jepang, jenis kue wagashi semakin beragam dan teknik pembuatan kue juga semakin berkembang. Misionaris dari Portugal ikut memperkenalkan kue dari Barat seperti castella, bolu, dan permen kompeito.

Pada zaman Edo, wagashi produksi Kyoto yang disebut Kyōgashi bersaing dengan wagashi produksi Edo yang disebut Kamigashi. Persaingan di antara keduanya memajukan seni pembuatan wagashi. Dalam hal bentuk dan rasa, wagashi dari zaman Edo tidak jauh berbeda dari wagashi zaman sekarang.

Nah di bawah ini ada beberapa jenis wagashi. Karena ada banyak banget jenis wagashi ini jadi kita akan jelaskan beberapa saja.

Jenis-jenis Wagashi

Namagashi

Namagashi

Namagashi (permen mentah) adalah permen tradisional Jepang yang paling sering dikaitkan dengan wagashi. Terbuat dari tepung beras dan isian pasta kacang manis, dan lembut dibentuk dengan tangan untuk mencerminkan musim. Namagashi disajikan saat upacara minum teh.

Dango

Dango 1
Dango (団子) adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, terbuat dari mochiko (tepung beras), dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus di dalam air. Mereka biasanya disajikan dalam tiga atau empat tusuk sate dan diberi saus manis atau pasta kacang. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas. Kushidango adalah sebutan untuk sejumlah 3, 4, atau 5 butir dango yang ditusuk menjadi satu dengan tusukan (kushi) dari bambu. Jumlah butiran dango dalam satu tusuk bergantung pada daerahnya di Jepang.

Dango yang rasanya manis dibuat dengan menambahkan gula ke dalam adonan, sedangkan dango yang tidak manis dicelupkan ke dalam saus. Dango juga bisa dimakan dengan taburan bubuk kacang kedelai (kinako), dimasukkan ke dalam mitsumame (agar-agar yang dimakan bersama aneka buah kaleng) atau selai kacang merah yang diencerkan dengan air. Selain dari tepung beras, dango juga bisa dibuat dari tepung terigu atau tepung millet. Wagashi Manisan Jepang

Dorayaki

Dorayaki

Dorayaki (どらやき。銅鑼焼き、ドラ焼き) adalah kue yang berasal dari Jepang. Dorayaki termasuk ke dalam golongan kue tradisional Jepang (wagashi). Kue ini bentuknya bundar sedikit tembam, dibuat dari dua lembar panekuk yang direkatkan dengan selai kacang merah. Dorayaki memiliki tekstur lembut dan mirip castella karena adonan diberi madu. Dorayaki hampir serupa dengan imagawayaki, tetapi berbeda bentuk dan cara memanggang.

Pada mulanya, Dorayaki hanya terdiri dari satu lembar kue bundar dengan pinggiran yang dilipat sedikit hingga berbentuk segi empat. Di bagian tengah kue diberi selai kacang azuki. Variasi dorayaki modern dapat diisi dengan tambahan lainnya, seperti krim kocok, krim custard dan krim rasa teh hijau. Pada tahun 1914, perusahaan kue Usagiya memperkenalkan dorayaki yang dibuat dari adonan castella dan terdiri dari dua lembar panekuk. Dorayaki yang terdiri dari dua lembar panekuk dan berbentuk bundar kemudian menjadi populer di seluruh Jepang. Di daerah Kansai (Osaka atau Nara), kue ini juga dikenal dengan nama mikasa(三笠).

Kue ini diberi nama dorayaki karena bentuknya yang mirip gong (bahasa Jepang: dora). Di Indonesia, kue ini mulai diperkenalkan bersamaan dengan diputarnya seri anime Doraemon di televisi. Tokoh Doraemon mempunyai kegemaran makan kue dorayaki. Dorayaki di Indonesia sudah disesuaikan dengan selera lokal, antara lain dorayaki berisi cokelat atau keju.

Taiyaki

taiyaki

Taiyaki/Kue ikan (たい焼き、鯛焼き、たいやき、タイヤキ) adalah kue Jepang berbentuk ikan. Bagian atas kue dipanggang terpisah dengan bagian bawah kue. Setelah kue hampir matang, keduanya disatukan dengan selai kacang merah. Kue ini juga sering diisi dengan cokelat, vla, keju, atau sosis. Sama halnya dengan adonan dorayaki atau panekuk, adonan taiyaki dibuat dari campuran tepung terigu, gula pasir, bakpuder, telur ayam, dan air. Wagashi Manisan Jepang

Dalam bahasa Jepang, tai (鯛) adalah sebutan untuk semua ikan dari familia Sparidae. Loyang untuk memanggang kue berbentuk ikan, sehingga disebut taiyaki (dalam bahasa Jepang, yaki berarti panggang). Taiyaki kualitas terbaik biasanya dinilai lewat isi selai kacang merah yang sampai di bagian ekor, adapun tambahan bahan modern seperti krim custard, coklat atau keju. Taiyaki paling baik dimakan ketika panas di atas panggangan saat adonan masih renyah.

Kue taiyaki menjadi tema lagu “Oyoge! Taiyaki-kun” (“Ayo berenang! si Taiyaki”) yang dinyanyikan Masato Shimon. Hingga saat ini, singel tersebut merupakan singel terlaris dalam sejarah industri rekaman Jepang. Taiyaki awalnya adalah imagawayaki yang dicetak dalam berbagai bentuk binatang. Di Jepang, ikan tai adalah ikan mahal yang hanya dimakan rakyat untuk kesempatan istimewa. Penjual imagawayaki juga membuat kuenya berbentuk ikan agar rakyat yang jarang memakan ikan tai menjadi senang. Selain itu, ikan tersebut dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, sehingga imagawayaki dalam bentuk ikan populer sebagai taiyaki. Wagashi Manisan Jepang

Yokan

Yokan

Yokan adalah camilan manis, keras, dan seperti jelly yang terbuat dari gula dan kanten agar. Muncul dalam berbagai rasa seperti kacang azuki, teh hijau atau gula hitam. Satu porsi bar dari yokan biasanya seukuran bungkus kecil permen karet, sementara bar yang lebih besar harus diiris sebelum disajikan. Yokan tidak memerlukan pendinginan dan memiliki jangka waktu simpan yang relatif lama.

Sakuramochi

Sakuramochi

Kue sakura atau Sakuramochi (Jepang: 桜餅) merupakan sejenis wagashi (和菓子), (jenis kue camilan dari Jepang). Sakuramochi biasanya berwarna merah muda dan ditutupi dengan awetan daun sakura (yang telah direndam sekitar satu jam untuk menghilangkan kadar garamnya) dan di isi dengan pasta kacang merah. Kue manis ini sering kali disajikan dan dimakan dalam acara Hina Matsuri pada bulan Maret tanggal 3 (bulan 3, tanggal 3). Namun, jenis kue ini bisa diperoleh di kebanyakan toko kue dan supermarket di Jepang, hampir di sepanjang tahun. Wagashi Manisan Jepang

Pada mulanya, Tokugawa Yoshimune (berkuasa pada tahun 1716 – 1745) memerintahkan untuk menanam pohon sakura dan pohon persik. Namun, pada saat itu terdapat penjaga gerbang di sebuah kuil Buddha di Edo (saat ini Tokyo) yang tidak senang membersihkan daun-daun sakura yang telah berjatuhan. Kemudian muncullah sebuah ide untuk memetik daun sakura yang belum gugur dan mengawetkanya dengan garam. Daun-daun sakura yang telah di awetkan tersebut kemudian diguakan untuk membungkus kue mochi yang dijual di kedai-kedai teh. Bahan dasar dari kue ini adalah tepung beras biasa (untuk daerah Tokyo) atau tepung beras ketan (untuk daerah Kansai).

Itulah beberapa penjelasan mengenai wagashi, salah satu dari kuliner yang ada di Jepang. Jadi bagi kalian yang ingin pergi ke Jepang jangan lupa untuk cobain ya wagashi ini. Selain itu kalau udah tau mengenai kulinernya jangan lupa juga untuk belajar bahasa Jepangnya ya biar bisa nawar oleh-oleh buat di bawa pulang kan^_^.

Referensi :

https://www.japantrips.co/blog/2018/09/wagashi-makanan-manis-tradisional-khas-jepang

https://allabout-japan.com/en/article/1758/

https://cotoacademy.com/learn-japanese-blog-taiyaki/

https://www.thecoast.ca/Shoptalk/archives/2017/12/20/theres-always-room-for-dessert-at-taiyaki-52

https://id.wikipedia.org/wiki/Wagashi

https://id.wikipedia.org/wiki/Dango

https://id.wikipedia.org/wiki/Dorayaki

https://id.wikipedia.org/wiki/Taiyaki

https://id.wikipedia.org/wiki/Sakuramochi

https://focusasiatravel.vn/doc-dao-wagashi-cua-nhat-ban-nghe-thuat-am-thuc-trong-chiec-banh/

www.japan-guide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.